
Berbicara pilihan jadi ingat ucapan dan nasehat sederhana kepada seorang teman yang sedang bimbang untuk memulai cari kerja merantau ke pulau Batam. Maklumlah selama hidupnya hanya tanah kelahiran satu2nya pulau yang dia kenal.
Saya katakan apa yg terlintas di kepala saya saat itu : Ibarat seorang tentara sembunyi & berlindung di balik benteng yang kokoh mungkin itulah solusi terbaik nya saat itu atau mencoba maju menyerang sebagai pilihan yang yg nekad. Dua pilihan yg sulit, mungkin sesulit membedakan salah dan benar atas perang itu sendiri... walau sesungguhnya tidaklah sesulit pemikiran kita, beda antara kedua pilihan itu hanya terletak pada hasil akhir....
pada pilihan kedua terlihat adanya suatu kemungkinan 50-50 tertembak atau berhasil keluar dengan selamat sambil menyusun strategi serangan balik selanjutnya. ...
Itulah perbedaannya, walau beresiko setidaknya masih ada sebuah pilihan yang lain.
Kalupun gagal paling tidak kita sudah pernah mencoba dan no thing to lose karena hasilnya tidak jauh beda dari diam dan bertahan.
Menimbang nimbang pilihan hidup tidak semudah itu memang... Diperlukan keberanian dan pengorbanan, keberanian dalam mengambil resiko, keberanian untuk berkorban dan keberanian untuk gagal.
Tidak seorangpaun yg bisa menjamin atas apa yang akan terjadi selain kita sendiri tidak juga kawan, sahabat apalagi nama besar almamater.
Ibarat nunggu bus di sebuah halte disaat tidak ada pilihan seharusnya begitu ada bus lewat naluri untuk meloncat adalah hal yang paling rasional walau nyempil hanya cukup separobadan.
Itulah loncatan pertama, kesulitan pertama sudah terlewati paling tidak sudah punya kesempatan untuk masuk dalam bus, selanjutnya mencarit dan memanfaatkan celah yang ada untuk mendapatkan tenpat duduk atau tempat berdiri yg lebih nyaman adalah pemikiran yang bijak. Begitu juga hidup, dalam memilih
pekerjaan. Janganlah pernah memandang remeh pekerjaan yang baru kita lakoni 1-2 tahun.
Bisa jadi itu adalah awal dari kesuksessan masa depan.
Dengan melihat dan memanfaatkan celah yang ada disuatu perusahaan apapun sebenarnya merupakan tabungan sebuah masaa depan, atau paling tidak menimba ilmu, spesialisasi bahkan memberi pernak pernik yang lebih menarik di lembaran CV nanti yang tentu kita jual kelak untuk mendapatkan penyesuaian atas grade kita.
10 thn lalu seorang teman selama kuliah dan merupakan teman seperjuangan saat merantau terpaksa harus pulang kampung karena buruknya krisis ekonomi melanda negeri ini di th 98 dan saya tidaklah terkejut saat setahun yang lalu kami berjumpa dan ternyata sekarang dia sudah menjelma sebagai seorang exportir kerajinan bali yang sangat sukses.
Begitu juga senior saya satu alumni di Mesin UNUD ini, di era 1996 dia sudah menjadi seorang head production di jajaran Bakrie, bahkan sempat dipromosikan sebagai Sales Manager namun krisis ekonomi 98 memaksa nya mencoba pilihan lain menjadi seorang penyalur segala kebutuhan POLRI, leasing mobil sampai membikin kontraktor lepas dg istilah PT. AAB (Apa Aja Bisa) dan terakhir berjumpa dia sukses mengelola dan memiliki sebuah harian berita di ibukota dan dia dulu seorang Insinyur Mesin.
Sebuah cerita yang mungkin tidak akan saya lupakan dalam hidup saya, saat itu kami menjumpai seorang bapak tua lengkap dengan pakaian dinas sebuah instansi pemerintah sambil melambai kearah kami.
Baru saya tahu rupanya bapak saya dulu pernah punya ambisi menjadi pegawai negeri.
Dengan ijasah SMP mungkin itu lumrah seperti diera 1970-an dan bapak saya salah seorang yang gagal test waktu itu. Dan sebagai pengecer minyak tanah dari rumah ke rumah adalah pilihan kesekian dari begitu banyak pilihan yang telah dicoba kenangnya sambil bernostalgia.
Namun dengan focus pada pilihan terakhir serta tekad tetap berusaha untuk menopang 3 orang anak yang kuliah di fakultas tehnik adalah motivasi sendiri untuk tetap bekerja dan focus pada tujuan serta yakin bahwa pekerjaan terakhir adalah pilihan terbaik dari semua pilihan yang pernah di coba.
Bayangkan jika dulu keterima sesuai cita2 sederhananya waktu itu mungkin sampai kini masih larut dalam kebanggan sebagai seorang pegawai berpakaian seragam di dinas pembasmi Malaria (waktu itu)
Intisari dari ltulisan propokasi ini adalah bahwa sebenarnya hidup adalah pilihan dan bukan pilihan untuk hidup. Tanpa kita sadadri Tuhan sebenarnya menyediakan begitu banyak pilihan yang sesuai dengan jalan hidup umatnya, jika takut memulai tentunya kita tidak akan pernah tahu adanya pilihan2 terbaik sebelum mencoba, dan terkadang jalan hidup terbaik seseorang justru bukan pilihan terbaik seperti yang pernah di inginkan semula.
selamat berjuang adik2 alumni T Mesin Unud...
salam,
Yudi Adnyana Mesin Unud 89.
